Hari Jazz Internasional, Jangan Hanya Jadi Sekedar Perayaan Musik

Hari Jazz Internasional 2019 Akan Diselenggarakan di Australia

Selamat Hari Jazz Internasional!

Hari Jazz Internasional, Jangan Hanya Jadi Sekedar Perayaan Musik – Prestisa. Prestisian, buat kamu si penikmat musik Jazz persiapkan dirimu ya! Karena akan ada konser global untuk memperingati Hari Jazz Internasional.

Dikutip melalui Warta Jazz, program untuk International Jazz Day edisi tahun 2019 akan diluncurkan di Australia dan dirayakan di lebih dari 190 negara di seluruh dunia.

Program ini berupa Konser Global yang akan diselenggarakan di Australia tepatnya di Hammer Hall Melbourne Arts Centre, tanggal 29 dan 30 April. Diisi dengan berbagai pertunjukan jazz, program pendidikan dan inisiatif layanan masyarakat akan disuguhkan dalam kemitraan dengan Melbourne Conservatorium. Yang menampilkan lebih dari selusin maestro jazz ternama.

Menyuguhkan penampilan dari Cievash Arian (Iran), William Barton (Australia), Dee Dee Bridgewater (AS), Till Brönner (Jerman), A Bu (Cina), Igor Butman (Federasi Rusia), Eli Degibri (Israel), Kurt Elling (AS), Matthew Jodrell (Australia), Ledisi (AS), Eijiro Nakagawa (Jepang), Mark Nightingale (Inggris), Chico Pinheiro (Brasil), Tineke Postma (Belanda), Antonio Sánchez (Meksiko), Nathan Schreiber (Australia), Somi (AS), Lizz Wright (AS), Tarek Yamani (Lebanon). Dan lebih banyak artis lainnya yang akan diumumkan.

Konser Global ini akan disiarkan via web melalui Youtube, Facebook, PBB dan UNESCO ke jutaan pemirsa di seluruh dunia.

Hari Jazz Internasional, Jangan Hanya Jadi Sekedar Perayaan Musik
Sumber: Warta Jazz

Sejarah Hari Jazz

Dilansir melalui Historia, Musik Jazz tidak bisa terlepas dari peran kulit hitam di Amerika Serikat. Jazz dikenal berkat warga Afro-Amerika pada akhir abad 19 hingga awal abad 20.

Sehingga musik jazz seringkali dikaitkan dengan sebagai musik yang mewakili suara kaum-kaum yang terdiskriminasi. Contohnya masyarakat kulit hitam itu sendiri.

Dikutip dari Web Jazz Net, perjalanan panjang dan berliku yang dialami aliran musik jazz membuat aliran musik ini digadang-gadang sebagai musik yang mewakili perdamaian.

Dari peristiwa yang panjang itulah pada November 2011 di Paris, Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan (UNESCO) menetapkan tanggal 30 April setiap tahunnya sebagai Hari Jazz Internasional.

Perayaan tahunan ini diketuai oleh Herbie Hancock, pianis serta musisi jazz ternama yang juga menjabat sebagai Duta Besar UNESCO untuk Dialog Antarbudaya dan Ketua Institut Musik Jazz Herbie Hancock. Serta Direktur Jenderal UNESCO, Audrey Azoulay.

Harapan Yang Tersimpan Dalam Setiap Perayaannya

Hari Jazz Internasional diharapkan dapat menyatukan komunitas, sekolah, artis, sejarawan, akademisi, dan penggemar jazz di seluruh dunia.

Karena musik jazz dianggap sebagai sarana komunikasi perdamaian masyarakat. Maka, setiap tahunnya pada tanggal 30 April, perayaan seni internasional ini memiliki harapan yang sama di setiap perayaannya.

Yaitu, untuk mempromosikan perdamaian, dialog antar budaya, keragaman, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia dan martabat manusia; memberantas diskriminasi; mempromosikan kebebasan berekspresi; mendorong kesetaraan gender; serta memperkuat peran pemuda dalam memberlakukan perubahan sosial.

Perayaan Hari Jazz Internasional di Indonesia

Di Indonesia sendiri akan diselenggarakan di beberapa tempat seperti di @america, Senayan yang akan menampilkan Tesla Manaf Duo dan Otto Stuparitz.