Perbedaan Malam Nuzulul Qur’an dan Malam Lailatul Qadr

Perbedaan Malam Nuzulul Qur’an dan Malam Lailatul Qadr – Prestisa. Prestisian, bulan Ramadhan merupakan bulan yang paling istimewa dibandingkan dengan bulan lainnya. Karena di bulan ini kita memperingati malam turunnya Al-Qur’an atau malam Nuzulul Qur’an. Tepatnya pada tanggal 17 Ramadhan.

Selain malam Nuzulul Qur’an terdapat pula lailatur qadar atau malam seribu bulan.

Nah Prestisian, tahukah kamu apa perbedaan diantara kedua malam yang mulia tersebut?

Perbedaan Malam Nuzulul Qur'an dan Malam Lailatul Qadr
Sumber: Shutterstock

Berikut penjelasannya, dilansir melalui laman NU:

Nuzulul Quran merupakan waktu di mana Al- Qur’an pertama kali diturunkan. Di Indonesia, Nuzulul Quran umumnya diperingati setiap tanggal 17 Ramadhan di malam hari.

Hampir di seluruh tempat di Nusantara mengadakan seremoni layaknya memperingati Maulid Nabi, Isra Mi’raj dan hari besar lainnya.

Umat Muslim di Indonesia memiliki banyak cara untuk mengisi acara Nuzulul Quran. Mulai dari tumpengan, pengajian, istighotsah, tahlil, khataman Al-Qur’an, dan sebagainya.

Allah telah menegaskan dalam Surat Al-Qadar ayat 1, bahwa Al-Qur’an diturunkan pada malam Lailatur Qadar. Yaitu malam paling spesial di bulan suci, malam yang sangat diharapkan seluruh umat Nabi Muhammad SAW. Malam yang lebih baik dari pada seribu bulan.

Lailatur Qadar terjadi di sepuluh akhir bulan Ramadhan. Salah satu indikasinya, Nabi sangat menekankan umatnya untuk melakukan I’tikaf dan ibadah lainnya di waktu-waktu tersebut.

Beberapa tafsir menjelaskan bahwa Al- Qur’an diturunkan dua kali proses. Pertama, diturunkan secara keseluruhan (jumlatan wahidah). Kedua, diturunkan secara bertahap (najman najman).

Sebelum diterima Nabi di bumi, Allah terlebih dahulu menurunkannya secara menyeluruh di langit dunia, dikumpulkan jadi satu di Baitul Izzah.

Selanjutnya malaikat Jibril menurunkannya kepada Nabi di bumi secara berangsur, ayat demi ayat, di waktu yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan selama dua puluh tahun. Pendapat lain ada yang mengatakan dua puluh satu tahun.

Proses turunnya Al-Qur’an secara total ini terjadi di bulan malam Lailatul Qadar, tepatnya malam 24 Ramadhan. Dalam proses turunnya Al-Qur’an secara bertahap, wahyu pertama yang diterima Nabi adalah Surat Al-‘Alaq, dari ayat satu sampai lima.

Saat Nabi mencapai usia 40 tahun, Allah mengutusnya Nabi untuk alam semesta. Agar mengeluarkan umat manusia dari sesatnya kebodohan menuju terangnya pengetahuan.

Tepatnya pada tanggal 17 Ramadhan, 13 tahun sebelum hijrah. Nabi menerima wahyu untuk pertama kalinya.

Dari referensi di atas dapat dipahami bahwa peringatan Nuzulul Qur’an yang populer di Indonesia mengacu pada sejarah pertama kali turunnya Al-Qur’an dalam proses kedua, yaitu Baitul Izzah kepada Nabi di bumi.

Perbedaan pendapat mengenai kapan wahyu pertama turun memang tidak bisa dihindari. Selain tanggal 17 Ramadhan ada pula yang berpendapat terjadi tanggal 7, 8, dan 21 Ramadhan. Bahkan beberapa pendapat ada yang menyebut bukan di bulan Ramadhan.

Namun, perayaan Nuzulul Quran di setiap tanggal 17 Ramadhan yang telah turun-temurun terlaksana tanpa ada pengingkaran dari para ulama. Setidaknya memiliki pembenaran dari sudut pandang sejarah menurut satu versi.

Oleh karena itu, kita tidak perlu fanatik secara berlebihan dengan menyalahkan pihak yang berbeda dengan pendapat yang diyakini. Siapa pun boleh merayakan Nuzulul Quran di selain tanggal 17 Ramadhan dengan tetap menghormati pendapat lain yang berbeda.

Prestisian, itu dia perbedaan malam seribu bulan dengan malam turunnya Al-Qur’an. Meskipun memiliki perbedaan arti dan peristiwa. Namun kedua malam tersebut sama-sama memiliki keutamaan yang lebih baik dibandingkan dengan malam lainnya.

Jangan lupa perbanyak ibadah pada malam tersebut ya, Prestisian!